banner 728x250

Islah DPC SAS Pekanbaru,Satu dalam Suasana Kebersamaan.

banner 468x60

Nusantarazona.com,Pekanbaru,05/04-26,Mesjid Gunung merah,Bersatunya pulang Kapangka didasari kebersamaan menyatu untuk berbuat kampung Halaman nan tercinta Sulek Aia Sepakat.Dipelopori Ketua umum H.Masfer dihadiri para tokoh Ninik mamak cerdik pandai dan warga SAS Pekanbaru sekitarnya Simbolik dilakukan salam Komando antar Ketua DPC Pekanbaru Mayor(purn) H.Ali Sabri dengan Abgda Aidil fitsen.

Disela Wirid bulanan diawal Syawal diisi oleh Ustad Fauzan safratos LC.Beetema Fitri setelah Sebulan penuh berpuasa dbulan Ramadhan.

Ustad Eid Fauzan mengtarakan ;Fitri berasal dari bahasa Arab, yang secara harfiah memiliki dua makna utama: berbuka (dari puasa) dan suci/murni. Dalam konteks Idul Fitri, ini menandakan hari raya berbuka puasa (kembali makan di siang hari), sekaligus melambangkan kembalinya manusia kepada kesucian atau fitrah dasar yang bersih dari dosa. 

Makna Mendalam Fitri:

  • Berbuka (Al-Fitr): Berasal dari kata afthara-yufthiru (أفطر – يفطر), yang berarti berbuka atau tidak lagi berpuasa. Idul Fitri artinya “hari raya berbuka” setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadan.
  • Suci/Fitrah (Al-Fitrah): Berasal dari kata fithrah (فطرة) yang berarti kesucian, bersih, atau kemurnian. Ini merujuk pada kondisi dasar manusia yang murni atau kembali seperti bayi baru lahir.
  • Disela irungi quiz doungkap juga pemaparan Rujuk atau Islah

Mengapa Islah Menjadi Jalan yang Paling Realistis?

Pertama, islah memperkuat ukhuwah nahdliyah. Seperti diingatkan Clifford Geertz dalam “The Religion of Jawa” (1960), masyarakat pesantren memiliki jaringan sosial berbasis hormat pada kiai dan tradisi yang sangat kuat. Jika konflik tidak segera diselesaikan, jaringan itu bisa mengalami ketegangan dan menular ke masyarakat akar rumput.

Kedua, islah mencegah politisasi organisasi. Ketika konflik dibiarkan, ruang terbuka bagi kepentingan Eksrternal.

Ketiga, islah mengembalikan fokus  pada agenda strategis: pemberdayaan ekonomi umat, digitalisasi pesantren, moderasi beragama, dan pendidikan. Energi SAS terlalu besar untuk dihabiskan dalam konflik internal.

Bagaimana Islah Bisa Dilaksanakan?

Terdapat beberapa kerangka kerja penting yang dapat diambil dari tradisi Islam dan teori modern:

Pertama, Musyawarah Para Kiai Sepuh. Pandangan ini selaras dengan spirit “Syura” dalam Al-Mawardi, “Al-Ahkam Al-Sultaniyyah” (1058). Para kiai sepuh dapat menjadi rujukan moral yang dihormati seluruh pihak..

Kedua, Dialog Setara. Jürgen Habermas dalam “The Theory of Communicative Action” (1981) menegaskan pentingnya ruang dialog yang bebas dari dominasi. Pihak-pihak yang berkonflik perlu berbicara sebagai sesama pengurusatau tokoh bukan sebagai kelompok yang ingin menang.

Ketiga, Deklarasi Damai Tanpa Ada yang Dikalahkan. Esensi islah adalah menjaga wajah semua pihak. Tidak boleh ada pihak yang merasa dikalahkan di hadapan publik.

Keempat. Agenda Bersama Pasca-Islah. Konflik harus diakhiri dengan peta jalan organisasi yang disepakati

Dalam perspektif pemikiran Islam klasik, Ibn Khaldun dalam “Muqaddimah” (1377) menegaskan bahwa setiap kelompok sosial memerlukan “ashabiyyah”—solidaritas dasar—untuk mempertahankan eksistensinya. Ketika solidaritas ini melemah, konflik internal menjadi destruktif, bahkan mengarah pada disintegrasi.

Dua pemikiran ini memberi peringatan: SAS sebagai organisasi besar memang akan mengalami perbedaan, tapi perbedaan itu hanya akan berbahaya bila hilang rasa persaudaraannya.

Tidak ada gading yang tidak retak,Harimau mati meninggalkan Belang Manusia Meninggal Meninggalkan Amal baik buat dikenang wassalam

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *